Saturday, 22 October 2016 00:53

Launching Bank Sampah SMK Negeri 6 Malang "BS6 Aksata"

Written by 
Rate this item
(2 votes)

        Terobosan baru dilakukan SMK Negeri 6 Kota Malang. Terutama dalam menyikapi persoalan kebersihan lingkungan dan persoalan keterlambatan pembayaran sumbangan penyelenggara pendidikan (SPP) para siswanya. Berdasarkan catatan yang dimiliki sekolah negeri tersebut, dari 2.612 siswanya rata-rata setiap bulan mampu membayar SPP secara rutin hanya 40%. Kepala SMK Negeri 6 Kota Malang, Dewi Lestari menyebutkan, pelunasan SPP baru akan mencapai sekitar 75% saat dilakukan ujian semester. “Bahkan, pada akhir masa sekolah, selalu terjadi pemutihan penunggakan pembayaran sekolah hingga mencapai 30%,” tuturnya.Selama ini nilai SPP yang diterapkan untuk para siswa paling tinggi mencapai Rp175 ribu/bulan. Agar persoalan penunggakan pembayaran SPP ini tidak sampai mengganggu kegiatan sekolah, Dewi membuat terobosan dengan menghidupkan bank sampah sekolah. Dibantu para guru dan siswa, bank sampah sekolah ini mulai resmi dioperasikan dengan tujuan para siswa bisa menabung, tapi tidak berupa uang tunai. 

        Namun, menabung dengan sampah rumah tangga yang masih bisa dimanfaatkan dan didaur ulang. Tabungan yang terkumpul bisa dimanfaatkan sebagai uang membayar SPP. Saat ini bank sampah sekolah tersebut masih dirintis selama tiga bulan. Hasilnya mulai tampak karena para siswa sangat bersemangat menabung sampah.Bank sampah sekolah di SMK Negeri 6 Kota Malang tersebut diberi nama BS6 Aksata. Sabtu tanggal 30 Oktober Bank Sampah SMKN 6 Malang diresmikan langsung Oleh Kepala Dinas Pendidikan Dra. Zubaidah, MM dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Malang Drs. Agoes Putranto,MM dan juga Dr. Gamal Albinsaid. Sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Malang (BSM) yang selama beberapa tahun ini sudah berkembang pesat. Sampah-sampah yang dikumpulkan siswa ditimbang lalu dipilah di rumah bank sampah sekolah. Rumah bank sampah sekolah ini didirikan di lahan kosong yang ada di samping sekolah. “Setelah kami pilah, dan kami catat.Seluruhnya kami kirimkan ke BSM,” tutur Dewi.

      Hasil tabungan para siswa ini akan dikelola bank sampah sekolah yang diurus para siswa sendiri dengan bimbingan guru. Uangnya, menurut Dewi, juga akan dimanfaatkan membayar SPP para siswa sehingga tidak ada lagi keluhan keterlambatan pembayaran SPP. Salah seorang siswa SMK Negeri 6 Kota Malang, Vivi Nurhanifah, 16, mengaku terbantu dengan ada bank sampah sekolah ini.“Saya menjadi punya tabungan di sekolah. Paling tidak, saya bisa membantu meringankan beban orang tua,” tuturnya. Dia sudah beberapa kali menabung di bank sampah sekolah. Barang bekas yang dibawanya berupa kardus bekas, buku bekas, serta botol-botol bekas yang didapatkan di rumah atau ditemukan di jalanan.

 

Read 647 times Last modified on Saturday, 22 October 2016 02:42
Designed by Girisa Teknologi